Friday, March 23, 2018

Process Control System: Controller (5)

Pada tulisan sebelumnya, bisa dilihat bagaimana sebuah perbedaan dalam jenis sinyal mempengaruhi bentuk sebuah jaringan. Mari lihat contoh dibawah ini bagaimana perubahan dari jenis transmisi sinyal dirubah dari analog menjadi digital pada sebuah kabinet sistem dimana terdapat I/O interphase dan juga controller
Perubahan System Cabinet dari Analog menjadi Digital
Berdasarkan gambar diatas, bisa dilihat bahwa penampilan kabinet sistem berubah menjadi lebih simpel dengan menggunakan transmisi sinyal digital karena tidak membutuhkan banyak kabel untuk menyalurkan sinyal digital.

Setelah membahas mengenai jenis transmisi sinyal, kali ini akan dibahas mengenai bagaimana sinyal tersebut diterima, diterjemahkan dan diproses sehingga bisa memberikan output sinyal yang kemudian diteruskan ke dalam actuator. Hal ini dilakukan oleh controller yang ditunjukkan oleh kotak hitam pada gambar disamping.

Adapun bentuk controller bisa bermacam-macam dan hal ini pernah ditampilkan pada tulisan sebelumnya, yang bisa dilihat kembali disini

Mari lihat kotak hitam tersebut secara lebih jelas melalui gambar dibawah:

Controller Unit dalam System Cabinet
Diatas ditunjukkan sebuah sistem pengontrolan yang terdiri atas I/O Cards, Controller dan juga Power Supply. Contoh diatas memperlihatkan adanya dual item untuk satu jaringan, misalkan dua controller, dua I/O cards untuk menangani satu proses yang sama. Hal ini menunjukkan sistem kontrol tersebut bekerja secara redundancy. Artinya, apabila satu rangkaian rusak, maka sistem masih bisa beroperasi dengan menggunakan satu sistem lainnya yang masih berfungsi normal.

Controller pada gambar diatas adalah Motorola PowerPC, yang merupakan Central Processing Unit (CPU) 32 bit yang memiliki cukup memori yang digunakan untuk kebutuhan kontrol dan mampu menangani hingga  64 I/O Cards per controller.

Jika digambarkan dalam bentuk diagram rangkaian sistem kontrol, maka kotak hitam diatas kurang lebih akan sama dengan kotak yang ditunjukkan dalam gambar dibawah:

Controller bisa menjalankan fungsinya untuk mengontrol sebuah sistem jika ada program yang berjalan di dalam unit controller tersebut yang melakukan fungsi algoritmiknya untuk merespon parameter yang ditransmisikan dari transmiter di lapangan. Pemograman ini bisa dilakukan di ruangan engineering work station. Caranya ditunjukkan oleh skematik dibawah:


Pada ruangan Engineering Work Station tersebut memiliki sebuah software yang terinstall di dalam PCS System Server. Strategi pengontrolan untuk proses operasi bisa dibuat menggunakan Control Builder yang merupakan bagian dari software dalam PCS System Server tersebut. Setelah strategi control dibuat, maka ia bisa di-download ke dalam controller sehingga controller dapat bekerja.

Control Builder yang digunakan untuk memprogram Controller berisi sekumpulan blok fungsi standard (Standard Function Block) yang harus dirangkai terlebih dahulu sehingga membentuk konfigurasi yang dikehendaki untuk kemudian bisa mendefinisikan bagaimana sebuah kontrol dilakukan.

Function Block (Logical Connection)
Function Block yang telah terbentuk inilah yang kemudian berfungsi sebagai unit pemrosesan yang digunakan untuk mengontrol sebuah proses sesuai dengan I/O yang dituju. 

Pada tulisan kali ini, dapat diketahui bagaimana pemrograman terhadap controller dilakukan dengan diisi didalamnya oleh rangkaian function block standard dari Control Builder. Pada bagian selanjutnya, akan dibahas mengenai function block standard yang terdapat dalam Control Builder.

Keep Stay Tuned

No comments:

Post a Comment

Leave your comment, any urgent message please mail me !